Postingan

[Ulasan Buku] - Vita Brevis, Sebuah Gugatan dari Cinta

Gambar
Sumber Gambar: Google Image Judul: Vita Brevis (Sebuah Gugatan dari Cinta) Penerbit: Jalasutra Penulis: Jostein Gaarder Penerjemah: VAM Kaihatu Jumlah Hlm.: 150 ISBN: 979-3684-26-7 Siapa yang tak kenal dengan St. Agustinus, yang merupakan seorang Uskup, filsuf, sekaligus teolog yang mempunyai pengaruh luar biasa pada sejarah perkembangan pemikiran kekristenan pada abad pertengahan, bahkan banyak dari pemikiran yang berkembang pada masa itu adalah berakar dari Agustinus. Tapi, bagaimana jika ada sebuah sejarah baru yang terungkap mengenai santo yang mempunyai pengaruh besar di masanya ini? Apakah penilaian kita akan tetap sama jika kita mengetahui salah satu sejarah kelam orang yang telah disucikan ini? Apakah Agustinus tetaplah seorang Agustinus dengan pemikirannya yang luar biasa, masih dan akan tetap menempati posisi tertentu pada pemikiran para pengikutnya?

[Resensi Film] - PK (2014)

Gambar
Sumber gambar: Google image Judul Film      : PK (pee-kay) Sutradara     : Rajkumar Hirani Produser       : Vidhu Vinod Chopra, Rajkumar Hirani Penulis          : Abhijat Joshi, Rajkumar Hirani Pemeran       : Aamir Khan (PK)                       Anushka Sharma (Jaggu)                       Sanjay Dutt (Bhairon) Durasi          : 153 menit Genre           : Komedi, Drama, Fantasi Apa yang akan kita lakukan jika saat kita berada di kereta api, tiba-tiba ada seseorang yang membagikan sebuah selebaran atau iklan? Mungkin akan biasa saja jika selebaran itu memberitakan sebuah informasi yang berisi hal-hal pada umumnya, seperti iklan rumah, kredit motor...

[Bukan Puisi] - Tak Bertitel

Siapa yang nantinya akan kehilangan dari ketidakpedulian ini? Apakah pagi yang kerap riuh oleh sapa kita? Apakah siang yang senantiasa mengobati rindu kita meski sesaat? Apakah senja yang selalu ada untuk kita kembali menuai anak-anak rindu yang terlahir? Ataukah, malam yang tak jarang menyelimuti kita dalam doa sebelum pejam? Adalah perempuan yang pernah kau sebut sebagai perempuanmulah, yang akan merasakan mati pada tiap-tiap waktu yang telah tersebutkan.

[Impresi] - Dialog Pagi di Sebuah Wastafel #1

Pada pagi yang masih dingin, dan juga basah oleh guyuran hujan yang akhir-akhir ini tiada henti mengguyur kota megapolitan yang masih lengang karena sebagian besar penghuninya masih merayakan libur di hari kerja mereka—di sebuah gang yang bermulut pada jalanan, becek dengan sisa hujan yang masih menetes dan terus menetes, juga nampak sepi seperti tak berpenghuni. Sementara itu, di sebuah sudut rumah, pada sebuah wastafel yang menggantung di salah satu dinding dapur yang tak begitu besar, sedang terjadi perbincangan yang riuh. “Aku terlalu lama kotor.” Ucap sebuah wajan kepada piring yang sedang bermalas-malasan. “Bukankah kita semua di sini kotor?” Sahut sebuah sendok teh dari dalam gelas susu yang masih berbekas di dasarnya. “Kenapa kalian masih senang mendebatkan sesuatu yang telah menjadi takdir kita?” Timpal si panci yang nampaknya sudah bosan dengan topik yang tengah dibicarakan. “Apa kalian ingin bertingkah seperti manusia-manusia itu? Penuh drama, saling mencaci maki, bah...

Kita adalah kita

Karena kita adalah kita. Kita bukanlah produk masa lalu yang mengalami fiksasi di salah satu fase perkembangan kita, kita bukanlah robot yang hanya bergerak oleh stimulus dari hal-hal di sekitar kita, dan kita bukanlah kumpulan sistem yang bisa bertahan karena adanya pemberian  reinforcement dari orang lain kepada kita. Jika kita dilahirkan dalam keadaan seperti kanvas yang bersih, atau yang lebih dikenal dengan tabula rasa , maka menjadi berwarnanya kita adalah karena kita. Yakni, kita dalam artian penuh sebagai kita yang bebas secara fundamentalis. Maka, jika kita tidak menyukai warna di kanvas yang kita punyai, jangan salahkan dan mengambinghitamkan lingkungan, teman-teman, atau bahkan orang tua kita.  Karena warna apa yang ada di sana, itulah identitas kita, warna yang kita yang pilih--warna yang kita mau. -||-

[Puisi] - Sesederhana itu, Kekasih

Banyak doa yang terucap dari gemingnya suara Banyak harap yang terajut dari pilin gaibnya angan Mencintaimu, kekasih Sesederhana harap untuk membuatkanmu bekal santap siang Sesederhana harap untuk menyelimutimu dari dinginnya malam Pagi adalah jelma doa bagi kita Sapaan hangat darimu adalah cara sempurna hari untuk memelukku Panggilan sayangmu adalah bait terindah pada nyanyian loka Mencintaimu, kekasih Sesederhana ingin untuk mencium punggung tanganmu di pagi yang awal Sesederhana ingin untuk membelai rambutmu di malam yang kantuk Kerja cintaku memang sedikit misterius Kadang aku jabarkan  pada caci nan sumbang Kadang aku utarakan pada hamparan kekecewaan Dan, adakalanya aku selipkan pada kecupku di kedua telaga sendumu Sesederhana itu, kekasih

[Bukan Puisi] - Nama itu Kamu, Kasih

Aku adalah pemimpi berida Hidup dalam buaian bodoh yang sia-sia Mempercayai khayalan yang terlahir dari pemikiran ruang hampa Tetap bertahan pada utas keyakinan yang menyerupai fana Aku adalah penyusun puzzle sejati Berusaha mungkir pada tiap potongan yang kutemui Mencoba mengganti dengan potongan lain yang aku sukai Satu hari, Di musim yang mengembuskan angin utaranya Bertemu aku dengan seorang pengembara Pejalan kaki, sama sepertiku Lama berdiam di persimpangan yang sama, membuat aku dan dirinya bisa menyelami masing-masing palung kami lebih dalam Wujud sederhana itu membuatku jatuh hati ---- Apa lebihnya? Sosok yang telah lama bersemayam dalam diriku bertanya pada satu malam Seperti yang telah lalu, dia selalu sanksi dengan apa yang aku mau Mencoba memutar arah laju mimpi yang berjalan lambat Dia tak mempunyai lebih Jawabku pada akhirnya Dia pucat, penaka rupa dewi malam yang tetap berjaga pada hari yang mulai lahir Dia tak mempun...