Postingan

Samakah...

Pernah, kala itu sesama kita menghabiskan waktu untuk berbagi cerita pada pagi dan malam kita pada pejam dan jaga kita pada sunyi dan ramai kita Pernah juga, kala itu sesama kita menautkan kelingking bersama berikrar perihal kesediaan akan saling menjaga untuk menjadi benteng perlindungan bagi lainnya Aku mengira itu akan selamanya atau akan terjaga sampai habis masa kita tapi, sebelum bertemu dunia, dia telah tiada tertelan pada kebisuan yang entah bagaimana bisa ada Hai, kamu masihkah sapamu sehangat tempo lalu? ataukah telah beku layaknya dinding-dinding gua yang berdiri kaku? dan, kiranya--adakah sisa kicau untuk masing-masing kita? sekedar kita bagi jika waktu berkenan agar kita bersua.

Asmaragama

Senja menua, malam kembali muda Pada desir hawa kelam yang dingin Meninggalkan gigil tiada peri Ragaku jatuh pada dekap hangat Gerayah lembut menelusup pada celah kerapuhan Jari dengan belai-belainya bertahta pada kepasrahan Pelan membawaku pergi jauh dari nyatanya rat Kecup hangatnya sekilas membawa damai Menyisakan gigit kecil pada tiap inci yang terjamah Mejelma noda biru pada basah bibir yang disarangkan Aku berharap, Pada kedalaman harap tiada dasar Agar waktu sudi untuk sekedar beku Inginku tak muluk Hanya berharap nikmat tiada batas ini akan tetap terasa Pada tiap inci kulitku Pada tiap hela napasku Pada kedalaman jiwa yang gersang karena lama penantian Pada diri yang telah akrab dengan sepi

Pada Warsa

Pada warsa Yang disambut guyuran hujan tiada jeda Maujud suka dan duka Terlebur pada satu waktu yang kusebut masa Pada purnama ketiga Berakhir semua kisah sepasang tolan Yang terbujur kaku pada beku waktu Pada purnama kesembilan Yang tak kutahu kapan tibanya Sebuah penantian mungkin harus temu binasa Terpaksa tanggal, mati sebelum lahirnya Pada warsa Dua belas purnama akan lahir pada masanya Telah terukir dua kisah sebelum lainnya Sisa sepuluh yang menunggu tuannya Pada warsa Duka dengan senang hati akan mengisimu Tak perlu kau khawatir akan kosong pada waktu-waktu Pada warsa Suka hati dengan canggung akan menyelip di antaranya Tak perlu gundah akan detik-detik yang tiada bahagia Pada simpai detik bertemu dengan detik Melahirkan menit-menit, pada rangkai saat yang mereka sebut hari Lalu, bertemu dengan hari-hari setelahnya Dan menghidupkan purnama-purnama lainnya Ya, dan akan bertemu pada sebuah warsa Kembali, pada war...

Jika dan Akankah

Teruntuk kamu, Saat ini Di mana tepatnya kakimu menapak Aku tak tahu Di mana letak pohon yang meneduhimu Aku tak tahu Ke mana arah angin berhembus menyegarkan harimu Aku tak tahu Di mana saat ini arah pandangmu tertumbuk Aku pun tak tahu Ah, sungguh aku tak pernah tahu-menahu Meski hanya satu hal tentangmu Tapi, satu pasti yang akan selalu aku tahu Jika kau adalah satu dari sibiran hidupku Sosok semu yang selalu rela hati mendengarkan kesahku Pada tiap pagimu, siangmu, petangmu, bahkan malammu Tapi, itu dulu Sebelum waktu mulai cemburu terhadapku Sebelum khilaf merenggut yakinmu atas janjiku Sebelum jemu tegur menyelimuti kau dan aku Jika, satu saat nanti Pada suatu petang yang mengakrabi diri sebagai senja Dengan segala keindahan jingga pada tepian cakrawala Adakah satu sempat yang sudi berbesar hati? Sekedar memberi jeda pada waktumu Untuk meneguk secangkir kaku kopi pada beranda kenang dan rindu bersamaku Jika waktu berken...

Untitled #1

"Seorang Ibu di tahan karena melakukan penganiayaan kepada anaknya" Aku tak tahu sudah berapa kali berita itu muncul akhir-akhir ini Dunia sudah makin gila nampaknya Anak yang ia kandung kemudian di bunuh Anak yang dulu diharapkan kelahirannya kemudian di nikmati tubuhnya Anak yang dulu di timang kemudian di jual untuk bayar hutang keluarga Dunia Ya, selamat datang ke dunia yang makin buta akan arti kewarasan Selamat bergabung bersama mereka orang-orang yang telah hilang akal ~iyasCoveRy ---------------- credit by : Rumah Puisi

Sajak Jalanan

"Om, lapar Om..." Kata itu mengalir deras dari mulut-mulut kecil Mengetuk sebuah kaca mobil, lagi, dan lagi Masih dengan kalimat yang sama "Om, lapar Om..." Si pemilik mobil mengeluarkan receh Jika dia beruntung  Mungkin lembaran rupiah bergambar pattimura akan disodorkan kepada mereka Seharian penuh Dari fajar mulai menampakkan wujudnya Sampai hari menua Mereka masih saja dengan tingkah yang sama Mengetuk sebuah kaca mobil, lagi, dan lagi Masih dengan kalimat yang sama "Om, lapar Om..." ~IyasCoveRy ----------------------- Sebuah puisi yang bisa teman-teman temukan di web page sebuah komunitas puisi " Rumah Puisi ". Puisi ini saya share dalam chat room group komunitas tersebut. Selamat menyesap habis aksara yang telah saya tuangkan kali ini. credit by : Rumah Puisi

Simpai Kerinduan

Jika merinduimu adalah sebuah kebodohan Maka, aku adalah wujud nyata dari arti bodoh itu Jika mengharapmu adalah sebuah kesia-siaan Maka, aku adalah sosok hidup dari sia-sia itu Tiada hari yang kulewati tanpa menyulam rindu Yang tiada simpul akhir akan kutemui Tiada detik kulalui tanpa melukis harap Yang tiada titik akhir akan usai kugoreskan Tuan, jangan pernah sekalipun kau meminta aku untuk berhenti Sekedar menyandarkan harap semu untuk perjumpaan kita Tuan, jangan pernah sekalipun kau meminang kata usai dariku Sekedar merebahkan dogma tabu untuk perpisahan yang tiada Biarlah aku menikmati sunyi Jika memang tiada niat kau menemani Cukup berikan jeda untuk hidupmu Hanya sekedar mengingat seorang dungu sepertiku